Tari Lilin, Mengisahkan Keanggunan Gadis Pencari Cincin

AdaHobi, Tari Lilin adalah tarian daerah Minangkabau. Tari yang merupakan salah satu tari tradisional Indonesia yang berasal dari provinsi Sumatera Barat ini dulunya adalah tarian penghibur kesedihan yang berasal dari lingkungan istana.

Ciri-ciri tari Lilin dan keunikannya tentu saja menggunakan properti lilin yang diletakkan di atas piring dan menjadi sebuah tarian yang memiliki ritme gerakan pelan.

Hal ini disebabkan taria ini mengisahkan tentang seorang wanita yang ditinggal merantau tunangannya dan harus mencari cincin pertunangannya yang hilang.

Menggunakan pola lantai lurus dan diiringi beberapa alat musik, lama kelamaan tarian ini mengalami banyak perkembangan. Berikut informasi selengkapnya tentang tari Lilin!

Sejarah Tari Lilin

Sejarah Tari Lilin
encyclopedia.jakarta-tourism.go.id

Kisah dibalik tarian ini sangatlah menyedihkan. Konon, pencipta tari Lilin adalah seorang wanita Minang yang ditinggal merantau tunangannya kemudian kehilangan cincin pertunangannya tersebut.

Alhasil, ia harus mencari cincin tunangannya yang hilang sampai malam hari. Di tengah keadaan gelap, ia menyusuri rumah dengan membawa lilin yang menyala dan diletakkan di atas piring. Sebagai tarian dengan cerita sedih, oleh sebab itu gerakan tari Lilin cenderung pelan.

Alunan musiknya pun lembut mengikuti suasana cerita yang digambarkan. Pada zaman kerajaan, tarian ini hanya ditarikan untuk menghibur keluarga raja.

Akan tetapi lama kelamaan seiring dengan perkembangannya, tarian ini diperagakan sebagai tarian ketika musim panen tiba.

Tari Lilin ditarikan sebagai perwujudan rasa syukur kepada sang dewi jika musim panen telah tiba.

Kini, tarian dari Minangkabau ini juga menjadi sebuah tarian yang dipertontonkan ketika festival budaya, atau menyambut tamu penting dan pejabat negara.

Baca juga : Tari Piring, Warisan Kesenian Budaya Khas Minangkabau

Gerakan dan Pola Lantai Tari Lilin

Gerakan dan Pola Lantai Tari Lilin
backpackerjakarta.com

Gerakan tari Lilin cenderung unik dan menonjolkan sisi kelemahlembutan seorang wanita. Tarian yang diperagakan secara berkelompok ini didominasi dengan gerakan tangan yang diayunkan seperti sedang berdoa.

Jumlah penari tari Lilin minimal adalah 3 orang dan masing-masing penari akan memegang sebatang lilin yang dinyalakan di atas sebuah piring.

Penari harus menari sembari menjaga lilin di atas piring tersebut agar cahaya yang menyala tidak sampai padam dan piring tidak terjatuh.

Terdapat juga gerakan yang meletakkan piring di atas kepala, melentikkan jari tangan dan menggerakkan telapak tangan, menggeolkan pinggul, melenggak-lenggokkan kepala serta leher.

Gerakan tubuh meliuk, membungkuk dan menengadah pun akan ditampilkan dan hal ini menciptakan keindahan tersendiri pada setiap gerakan.

Jika dilihat dari gerakannya, pola lantai tari Lilin yang lurus merupakan sebuah lambang kehidupan.

Selain gerakan yang dipenuhi arti, kostum dan busana penari pun mengandung makna atau simbo-simbol tertentu dan menyimpan nilai-nilai kehidupan masa lalu bagi gadis Minang.

Musik Pengiring Tari Lilin

Musik Pengiring Tari Lilin
selasar.com

Musik Melayu menjadi pengiring tarian lilin. Musik Melayu yang diperdendangkan sebagai musik pengiring tercipta dari alat musik berupa gong, bonang, kenong, gendang, dan tok-tok.

Makna Tari Lilin

Makna Tari Lilin
sahabatnesia.com

Dengan gerakannya yang cenderung pelan dan diiringi musik syahdu, tarian ini menjadi sebuah tarian yang memiliki makna :

1. Tarian gotong royong

Makna gotong royong dari tarian Lilin ditunjukkan dengan penari yang menari membawa lilin secara berkelompok.

Hal ini menggambarkan suasana sekelompok gadis desa yang sedang membantu temannya mencari cincin tunangannya yang hilang.

Tari Minang ini juga memiliki filosofi tentang gadis Minang yang selalu mengedepankan asas gotong royong dan kerjasama dalam setiap menyelesaikan masalah apapun.

2. Memberikan petuah atau nasihat

Sesuai kisah sejarahnya, tarian ini merupakan tari yang berkisah soal kesedihan gadis Minang ketika harus berpisah dengan tunangannya yang merantau dan harus kehilangan cincin tunangannya.

Dibalik cerita sedih tersebut terkandung pesan bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya asalkan setiap manusia juga tidak menyerah dan tetap berusaha sembari meminta pertolongan kepada Tuhan.

3. Wujud rasa syukur

Gerakannya yang membungkuk, duduk dan menengadahkan tangan dengan piring dan lilin digenggam menggambarkan rasa syukur kepada dewi ketika musim panen tiba.

Dulu, tarian ini memang akan selalu ditarikan ketika musim panen walau sekarang sudah jarang dilakukan.

4. Tarian hiburan

Hakikat sebuah tarian memang menjadi penghibur. Oleh karena itu dalam perkembangannya, tarian Lilin tidak hanya diperagakan pada acara-acara tertentu saja melainkan kini sudah dipertontonkan dalam berbagai acara dengan tujuan menghibur.

Tarian ini sering diperagakan dalam acara festival budaya, kesenian atau tarian untuk menghibur tamu yang datang termasuk kunjungan presiden, kepala daerah atau pejabat negara.

Baca juga : Tari Randai Minangkabau: Sejarah, Makna dan Keunikannya

Properti dan Kostum Tari Lilin

Properti dan Kostum Tari Lilin
restuemak.com

Tari Lilin sejak dahulu sampai saat ini menjadi tarian yang gerakannya tidak pernah berubah. Memang ada beberapa penyesuaian, akan tetapi pola gerakannya sebagian besar sama. Tari Lilin juga termasuk salah satu jenis tarian tradisional yang mudah dipelajari.

Tarian ini menggunakan properti dasar yang terdiri atas :

1. Lilin

Lilin yang digunakan sebagai properti dalam tarian adalah lilin seperti kebanyakan yang biasa Anda temukan di toko-toko dekat rumah dengan mudah.

Ketika pementasan berlangsung, lilin berada dalam kondisi menyala. Oleh sebab itu, tarian ini sangat cocok dipentaskan ketika malam hari.

Properti lilin yang digunakan selama tarian berlangsung harus dalam kondisi yang selalu menyala.

Oleh sebab itu, para penari yang membawa tari lilin harus pandai menjaga keseimbangan agar lilin di atas piring tidak sampai terjatuh atau pun mati.

2. Piring

Lilin yang dinyalakan selama tarian berlangsung tidak dipegang secara langsung. Piring inilah alas yang dimanfaatkan untuk meletakkan lilin tersebut.

Piring yang digunakan dalam tarian ini pun ukurannya cenderung kecil atau sedang, jadi bukan piring besar sebagai tempat makan biasanya.

Piring yang digunakan ukurannya pas dengan telapak tangan ketika tarian berlangsung sehingga piring yang dipegang tidak akan mudah terjatuh.

Para penari tidak perlu khawatir tangannya terkena lelehan lilin karena dengan adanya piring ini, lelehan dari lilin yang menyala tidak akan mengenai tangan secara langsung. Lelehan lilinnya akan berkumpul di atas piring yang dijadikan alas tersebut.

3. Kostum penari

Busana yang digunakan oleh penari Lilin adalah pakaian gede. Pakaian gede merupakan pakaian adat khas Palembang yang biasanya digunakan pengantin wanita di wilayah Palembang dalam acara pesta pernikahannya.

Pakaian gede ini umumnya dipakai berbarengan dengan hiasan gede. Namun untuk hiasan gede biasanya hanya digunakan oleh penari Lilin utama.

Untuk penari lainnya menggunakan dodot ataupun selendang mantri. Hiasan gede merupakan hiasan kepala yang dipakai oleh penari.

Kostum pakaian gede yang dipakai penari dalam memperagakan tari ini menekankan cerita tentang kejayaan pada masa kerajaan Sriwijaya.

Jadi kostum ini memang merupakan pakaian adat yang terdistraksi dengan kebudayaan China pada masanya. Oleh sebab itu, warna merah kental menjadi hiasan dan ciri khas pakaian ini.


Itulah berbagai aspek mengenai tari Lilin dari Minangkabau yang kita perlu lestarikan agar tidak hilang ditelan zaman atau peradaban modern.

Semoga menjadi informasi yang menambah wawasan kita khususnya tentang tarian Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like