3 Teknologi Reproduksi Pada Tumbuhan dan Penjelasannya

Adahobi, Teknologi reproduksi pada tumbuhan merupakan usaha yang dilakukan oleh manusia mengembangbiakkan atau melestarikan tumbuhan dengan maksud untuk mengatasi permasalahan yang ada dan berkaitan dengan reproduksi. Hal itu dibuat bertujuan untuk menjaga kestabilan ekosistem makhluk hidup khususnya tumbuhan di dunia.

Namun kali ini kita akan membahas tentang bagaimana teknologi reproduksi pada tumbuhan. Simak penjelasan ini sampai tuntas ya.

Teknologi Reproduksi Pada Tumbuhan

Hasil yang diperoleh dari pengembangan teknologi reproduksi pada tumbuhan adalah munculnya banyak inovasi dalam sistem perkembangbiakan baik itu secara ilmiah dan juga secara modern. Berikut ini yang merupakan 3 jenis teknologi reproduksi pada tumbuhan lengkap dengan pembahasannya!

Hidroponik

Hidroponik
teknologi reproduksi pada tumbuhan – tokopedia.net

Hidroponik merupakan salah satu teknologi reproduksi pada tumbuhan melakukan budidaya atau menanam dengan cara memanfaatkan air tanpa memakai tanah dan juga menekankan penumbuhan kebutuhan dari nutrisi untuk tanaman. Air dibutuhkan dalam jumlah sedikit pada proses teknologi reproduksi pada tumbuhan dengan teknik penanaman ini jika dibandingkan dengan budidaya yang menggunakan media tanah. Hal ini dikarenakan Hidroponik memakai air yang lebih efisien sehingga sangat cocok untuk diterapkan pada daerah yang mempunyai pasokan air terbatas. 

Meskipun bertanam menggunakan sistem hidroponik sudah tidak asing di dunia pertanian, tetapi ternyata masih banyak masyarakat yang belum tahu dengan baik bagaimana cara melakukan dan juga manfaat yang dihasilkan. Sehingga berikut ini merupakan penjelasan dari teknologi yang menggunakan sistem Hidroponik pada tanaman, mulai dari bahan yang dibutuhkan, cara penanaman, manfaat, kelebihan dan juga kekurangan dari sistem hidroponik. Simak penjelasan berikut ini!

Bahan Diperlukan Hidroponik

Contoh Bahan Hidroponik
teknologi reproduksi pada tumbuhan – hidroponikpedia.com

Penanaman menggunakan sistem hidroponik ini, tentulah pasti menggunakan bahan-bahan yang diperlukan. Adapun bahan-bahan tersebut bisa berupa pot yang disesuaikan ukurannya dengan tanaman yang nantinya akan dijadikan maskot. Tanaman tersebut bisa berupa sayur-sayuran atau tanaman tahunan seperti kedondong, jambu dan bisa juga untuk bunga.

Pot yang digunakan dalam proses penanaman ini adalah sebaiknya pot bertingkat yang dilengkapi dengan wadah untuk penampungan air pada bagian dasarnya. Untuk bahan pot sendiri bisa berupa tanah liat dan juga plastik. Karena masing-masing dari bahan tersebut terdapat keunggulan dan juga kelemahannya. 

Pot dari tanah memiliki keunggulan yakni mampu menjaga stabilitas temperatur media, tetapi kelemahannya yakni pada tempat ini akan cepat berlumur dan juga mudah rusak. Sedangkan untuk pot plastik memiliki kelebihan yakni bisa bertahan dengan lama atau awet, tetapi kelemahannya adalah tempat tersebut tidak bisa melewatkan air dari dinding pot sehingga yang terjadi adalah stabilitas media tidak stabil. 

Kemudian untuk media tanam kita bisa menggunakan pasir, batu apung putih, batu zeolit, pecahan batu bata, batu kali dan juga ada kawat kasa nilon. Sedangkan jika ingin menjaga sterilitas sebaiknya semua bahan direbus terlebih dahulu sebelum dijadikan sebagai media tanam. Untuk tanamannya sendiri bisa diambil pada tanaman yang telah tumbuh di dalam polybag.

Cara Penanaman Hidroponik

Contoh Penanaman Hidroponik
teknologi reproduksi pada tumbuhan – jendela360.com

Jika semua bahan sudah disiapkan, maka lakukan langkah-langkah menanam sebagai berikut:

  1. Ambil kasar kasa nilon yang sudah disiapkan, kemudian letakkan di dasar pot
  2. Masukkan pecahan batu bata selapis, kemudian di atasnya letakkan batu apung dan juga batu zeolit hingga sepertiga bagian dari pot yang digunakan.
  3. Ambil tanaman yang siap untuk dipindahkan dari polybag ke pot, yakni dengan cara membersihkan akar tanaman yang selama ini telah tumbuh di polybag tersebut dengan cara melarutkan media tanamnya yang berupa tanah ke dalam air. Jika sudah, maka amati akar tersebut apakah ada yang rusak atau tidak. 
  4. Apabila ada akar yang rusak atau terlalu panjang, potong akar tersebut sesuai dengan besar dari tanaman maskot dan juga pot. Hal tersebut juga berlaku dengan daun tanaman, apabila daunnya terlalu rimbun, maka perlu dikurangi. 
  5. Setelah itu Bibit tersebut ditanam di dalam pot yang sudah terisi bahan sepertiga dari bagian. 
  6. Jika sudah maka lanjutkan dengan menambahkan media tanam hingga sampai dua pertiga bagian dari pot.
  7. Isilah pot tersebut dengan nutrisi yang dibutuhkan. 

Jika tanaman tersebut baru pertama kali, maka tanaman perlu membutuhkan pengeritingan dengan plastik transparan selama dua minggu dan letakkan di tempat yang teduh. Sementara untuk nutrisi yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

  • Pembibitan

Bibit Hibrida sangat disarankan untuk proses ini, karena Bibit tersebut mempunyai mutu buah atau sayur yang cukup optimal

  • Penyemaian

Penyemaian bisa menggunakan bak dari kayu atau juga plasti. Bak tersebut akan berisi campuran dari pasir yang sudah diayak menjadi halus, sekam bakar, kompos dan juga pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1:1 dimana semua bahan tersebut dicampur dengan merata. Jika sudah bisa di adukkan ke dalam bak yang memiliki ketinggian sekitar 7 cm. 

Masukkan biji tanaman dengan jarak 1×1,5 cm. Kemudian tutup baik itu menggunakan tisu/karung atau kain yang telah dibasahi agar kondisi tetap lembab. Jangan lupa siram tanaman apabila terlihat kering. Buka penutup setelah biji tersebut berubah menjadi kecamba dan pindahkan ke tempat penanaman yang lebih besar. 

  • Persiapan media tanam

Seperti yang sudah dijelaskan duatas, media tanam adalah media yang mampu menyerap dan juga menghantarkan air, tidak mudah busuk, tidak mempengaruhi pH, steril, dan lainnya. 

Media tanam yang bisa digunakan bisa berupa gambut, sabut kelapa, sekam bakar, Rockwool atau serabutan dari bebatuan. Kemudian isi kantong plastik, polybag, pot plastik, karung plastik, atau bantalan plastik dengan media tanam yang telah disiapkan. 

Untuk bercocok tanam secara hidroponik mutlak menggunakan green house. Green house bisa dibuat baik itu dari rangka besi, rangka bambu, atau rangka dari kayu. Tempat tersebut berfungsi sebagai penyimpan tanaman pada saat tahap persemaian atau pada saat sudah pindah ke media tanam yang lebih besar. 

  • Pupuk

Media tanam hanya berfungsi sebagai pegangan akar dan juga perantara larutan nutrisi untuk mencukupi kebutuhan unsur hara, makro dan mikro, sehingga diperlukan pemupukan dalam bentuk saluran yang kemudian harus disiramkan ke media tanam. 

  • Perawatan tanaman

Perawatan ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perawatan pada penanaman sistem konvensional, yakni meliputi pemangkasan, pembersihan gulma, dan penyemprotan pupuk daun.

Manfaat Hidroponik

Berikut ini merupakan manfaat apabila kita menerapkan penanaman dengan sistem hidroponik. Manfaat tersebut sebagai berikut:

  1. Hasil dan juga kualitas tanaman lebih tinggi
  2. Lebih bebas dari hama dan juga penyakit tanaman
  3. Hemat dalam penggunaan air dan juga pupuk
  4. Dapat digunakan untuk mengatasi masalah dari tanah
  5. Dapat untuk mengatasi masalah dari keterbatasan lahan

Kelebihan Hidroponik

Sedangkan berikut ini merupakan kelebihan dari bercocok tanam dengan menggunakan sistem hidroponik. Manfaat tersebut adalah sebagai berikut. 

  1. Dapat dilakukan di ruang yang termoat yang terbas dan juga higenis. 
  2. Tanaman akan tumbuh lebih cepat dan juga penggunaan pupuk bisa lebih hemat
  3. Lebih terjamin dan juga terbebas dari serangga dan juga hawa penyakit
  4. Produksi tanaman jauh lebih tinggi dibanding dengan menggunakan media tanam tanah biasa.
  5. Teknis perawatan dan juga peralatan yang digunakan lebih efisien. 
  6. Kualitas tanaman yang dihasilkan lebih bagus dan juga tidak kotor.

Kekurangan Hidroponik

Sedangkan untuk kekurangan dari bercocok tanam menggunakan sistem ini adalah sebagai berikut.

  1. Penanaman membutuhkan modal yang cukup besar
  2. Pada kultur substrat, kapasitas dari memegang air media substrat jauh lebih kecil dari pada media tanah, sehingga akan menyebabkan lainya tanaman yang cepat dan juga stress

Vertikultur

Vertikultur
teknologi reproduksi pada tumbuhan – i1.wp.com

Vertikultur merupakan teknologi reproduksi pada tumbungan yang menggunakan sistem budidaya dari pertanian atau cara berkebun dengan menggunakan media tanam yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Baik itu secara indoor atau outdoor. 

Teknik dari vertikultur bisa dilakukan dengan menggunakan media tanam yakni berupa campuran tanah gembur dan juga pupuk, sementara untuk tempat dari tanaman sendiri kita bisa menggunakan botol bekas, pot, rak gantung dan lainnya. Karena pada intinya penanaman menggunakan teknik ini harus dilakukan secara vertikal agar tidak memakan banyak ruang.

Tujuan Vertikultur

Tujuan dari teknologi reproduksi pada tumbuhan menggunakan teknik vertikultur sendiri adalah dapat menyiasati lahan yang sempit di wilayah perkotaan. Sehingga jika orang-orang tersebut tidak memiliki lahan atau tanah, mereka masih bisa tetap produktif dalam bidang pertanian atau perkebunan. 

Bukan hanya itu, teknik ini juga bisa menjadi salah satu upaya untuk penghijauan dan juga penyegaran, hal ini dikarenakan tanaman hijau mampu menghasilkan oksigen. Vertikultur juga bisa menjadi cara untuk mencintai lingkungan, karena pada teknik ini kita bisa menggunakan barang-barang bekas, baik itu botol dari air mineral, kaleng susu dan lainnya. Sehingga hal tersebut bisa menjadi solusi untuk mengurangi limbah yang ada di bumi.

Teknik Vertikultur

Teknik Vertikultur
teknologi reproduksi pada tumbuhan – bibitonline.com

Berikut ini merupakan salah satu teknik vertikultur teknologi reproduksi pada tumbuhan dengan media tanah dan botol bekas sebagai wadahnya. Simak tahapannya berikut ini!

  • Siapkan pot dari botol bekas

Pada teknik ini jika ingin menggunakan media botol, maka sebaiknya cari botol yang memiliki ukuran 1,5 L atau 2L. Kemudian bersihkan botol tersebut dan buat lubang selebar 3 hingga 5 cm pada bagian sisi, dari atas lalu ke bawah. Kemudian buat juga lubang drainase pada botol bekas. Botol ini nanti akan digunakan secara horizontal. 

Pot botol tersebut sangat cocok digunakan untuk tanaman yang memiliki akar pendek. Jika tanaman yang ingin ditanam memiliki akar yang lebih panjang, maka anda dapat membuat pot botol dengan cara memotong yang ada pada bagian bawah botol, kemudian melubangi turupnya untuk drainasse dan sisi samping dimanfaatkan untuk menggantung pot.

  • Siapkan media tanaman

Jika sudah menyiapkan tempatnya, maka siapkan media tanam yakni berupa tanah gembur, pupuk kompos dan juga sekam. Campur ketiga bahan tersebut dengan perbandingan yang digunakan 1:1:1 kemudian isi media yang sudah disiapkan pada pot botol bekas. 

  • Tentukan area tanam dan siapkan area tersebut

Tentukan tempat yakni berupa tembok yang terkena sinar matahari selama kurang lebih 6 jam. Kemudian tancapkan paku terlebih dahulu ke tembok, paku tersebut berfungsi tempat untuk menggantikan pot botol. Lalu siapkan tali dan pastikan tembok tersebut cukup kuat untuk menyangga pot-pot yang digunakan.

  • Penanaman dan perawatan

Biasanya tanaman yang cocok ditanam dalam teknik ini adalah sawi, salada, bayam, kangkung dan juga kemangi. Sehingga sebelum proses penanaman. Sebaiknya harus menyemai benih terlebih dahulu, baru kemudian bibit tersebut bisa ditanam kembali. Gantungkan pot yang sudah disiapkan pada tembok kemudian rawat tanaman tersebut yakni dengan cara menyiram setiap hari dan dipupuk dengan pupuk cair secara berkala.

Kelebihan Vertikultur

Berikut ini kelebihan apabila kita menerapkan penanaman dengan sistem vertikultur. Manfaat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Efisiensi untuk Lahan
  2. Mudah untuk dipindahkan
  3. Minimnya gulma atau tumbuhan liar
  4. Minimnya hama
  5. Hanya membutuhkan pupuk yang sedikit
  6. Lebih estetik
  7. Dapat membantu penghematan pengeluaran

Kekurangan Vertikultur

Sedangkan berikut ini merupakan kekurangan apabila kita menerapkan penanaman menggunakan sistem vertikultur.

  1. Penyiraman dan pemupukan harus dilakukan lebih sering.
  2. Modal yang dibutuhkan besar

Baca juga :

Kultur Jaringan Tumbuhan

Kultur Jaringan Tumbuhan
teknologi reproduksi pada tumbuhan – www.goodnewsfromindonesia.id

Kultur jaringan adalah teknologi reproduksi pada tumbuhan yang menggunakan teknik penggandaan tanaman yang dilakukan secara vegetatif. Yakni teknik tersebut dilakukan dengan cara mengisolasi tanaman seperti daun, mata tunas, dan juga menumbuhkan potongan-potongan dalam media buatan secara aseptik. 

Prinsip utama dalam teknik ini adalah penggandaan yang menggunakan bagian dari vegetatif tanaman dengan media buatan, teknik ini juga harus dilakukan pada tempat yang steril. 

Kultur jaringan bisa disebut dengan pembudidayaan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman yang lebih kecil secara utuh dan memiliki sifat yang sama dengan induknya. Kualitas dari bibit baru juga bisa menjadi lebih unggul daripada induknya.

Teknik Kultur Jaringan

Contoh Teknik Kultur Jaringan
teknologi reproduksi pada tumbuhan – www.gurupendidikan.co.id

Teknik dari penanaman menggunakan teknik kultur jaringan dibagi menjadi 7 macam teknik. Berikut ini merupakan penjelasan dari teknik-teknik kultur jaringan.

  • Kultur Meristem

Kultur Meristem biasanya disebut sebagai penyebut untuk ujung dari tugas apikal atau lateral. Kultur ini juga merupakan apikal dome dengan primordia daun kecil dimana biasanya mempunyai diameter kurang dari 2 mm.

  • Kultur Kalus

Kultur Kalus merupakan kultur yang diambil dari bagian eksplan yang telah membentuk kalus. Dalam teknik tersebut produksi dari kakus biasanya dihindari karena dapat menimbulkan adanya variasi.

  • Kultur Suspensi Sel

Kultur ini merupakan hasil kultur kalus, dimana biasanya didefinisikan untuk kumpulan sel-sel yang belum berdiferensiasi. Sehingga kultur tersebut disebut sebagai kultur suspensi jika dipisahkan dalam kultur cair

  • Kultur Protoplas

Kultur ini merupakan langkah lanjutan dari kultur suspensi sel, dimana dinding dari sel-sel yang akan disuspensikan dihilangkan dengan menggunakan enzim dengan tujuan untuk mencerna selulosa sehingga akan mendapatkan protoplasma. 

  • Kultum Anthe dan Pollen

Kalus dsj Embrio dari kultur athe dapat menghasilkan berbagai macam spesies.  Diman pada produksi embrio haploid, embrio hanya akan memiliki satu set dari pasangan kromosom normal. Sehingga dihasilkan lah dari jaringan gametofitik dari anther

  • Kultur Endosperm

Kultur ini mempunyai harapan yakni dapat menghasilkan tanaman triploid, langkah pertamanya ialah dengan menginduksi endospore. Agar terbentuk kamus. Kemudian usahakan jangan sampai terjadi diferensiasi yakni memacu terjadinya tunas dan juga akar

  • Kultur Embrio

Kultur embrio yang belum tua, yakni diambil dari biji mempunyai 2 macam aplikasi diantaranya adalah inkompatibilitas yaitu pada beberapa saat spesies atau kultubas yang timbul selepas dari pembentukan embrio dapat menyebabkan aborsi embrio. 

Embrio ini bisa diselamatkan dengan cara mengkulturkan embrio yang belum cukup tua dan juga menumbuhkannya pada media kultur yang tetap dan juga sesuai

Media Kultur Jaringan

Berikut merupakan media yang digunakan dalam kultur. Media tersebut ada dua jenis. Berikut ini penjelasan dari 2 media tersebut:

  • Media Padat

Media para merupakan media yang terdiri dari semua komponen kimia yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan juga dipadatkan dengan menggunakan zat pemadat. Zat tersebut berupa agar-agar batangan, bubuk  atau bisa juga berupa agar-agar kemasan kaleng khusus. 

Penggunaan dari agar-agar keemasan kertas tersebut sebagai media kultur jaringan harus diperhitungkan dengan teliti. Hak ini dimaksudkan agar medium tersebut tidak terlalu pada dan juga lembek. Biasanya jumlah yang digunakan adalah sekitar 8-10 gram per liter.

Jika media yang digunakan terlalu padat akan mengakibatkan akar sulit hntuk tumbuh. Dan jika media yang digunakan terlalu lembek, maka akan mengakibatkan eksplan tenggelam dan membusuk kemudian akan mengundang bakteri dan juga jamur. 

Media padat biasanya dapat juga digunakan untuk kloning, menumbuhkan protoplas pasca-isolasi, menumbuhkan planlet dari protokormus setelah dipindahkan dari suspensi sel dan bisa juga digunakan untuk menumbuhkan planlet dari protoplasma yang telah didudukan. Tujuannya digunakan metode ini adalah agar mendapatkan kalus dan dengan metode diferensiasi. Setelah itu kalus dapat tumbuh menjadi planlet.

  • Media cair 

Media cair kurang lebih sama dengan media padat, hanya perbedaannya terletak pada penambahan zat padat media ini. Dimana metode ini dinilai kurang praktis, karena untuk menumbuhkan kalus secara langsung dari eksplan sangkrah sulit. 

Tingkat keberhasilan dari metode ini juga sangatlah kecil, bahkan bisa juga hanya bekerja pada beberapa taman tertentu salah. Sehingga metode ini lebih menekankan pada suspensi sel untuk menumbuhkan protokormus.

Tujuan Kultur Jaringan

Berikut ini merupakan tujuan dari terbentuknya teknologi reproduksi pada tumbuhan yang mengunakan teknik kultur jaringan, karena memang sebuah teknik dilakukan karena berbagai alasan. Simak tujuannya sebagai berikut:

  1. Dapat memperoleh bibit tanaman baru yang lebih baik
  2. Dapat membuat tanaman baru yang bebas dari penyakit
  3. Bisa digunakan untuk memperbanyak tanaman sebagai keperluan ekonomi.

Manfaat Kultur Jaringan

Sedangkan berikut ini merupakan manfaat yang dihasilkan dalam teknik kultur jaringan. Manfaat tersebut antara lain:

  1. Bisa mendapatkan tanaman baru dalam jumlah yang lumayan banyak, bukan hanya itu penggandaan tanaman dengan menggunakan kultur jaringan juga hanya memerlukan waktu yang relatif singkat
  2. Tanaman yang dihasilkan bisa memiliki kesamaan baik itu secara fisiologis atau morfologis dengan induknya
  3. Tanaman yang baru didapatkan melalui kultur jaringan bisa menjadi lebih unggul. Keunggulan bibit ini bisa dari kesehatan dan juga mutu
  4. Kultur jaringan bisa dipakai untuk menghasilkan tanaman dengan jumlah yang banyak atau tidak terbatas.
  5. Bibit yang dihasilkan dari teknik ini akan terbebas dari hama dan juga penyakit.
  6. Efisiensi dalam waktu, karena hanya diperlukan waktu yang singkat pada teknik ini
  7. Pengadaan bibit dengan teknik kultur juga tidak bergantung pada musim tertentu
  8. Pengangkutan bibit relatif lebih mudah dan membutuhkan biaya yang murah. 
  9. Kecepatan tumbuh juga menjadi lebih cepat dibandingkan pengganda gan dengan menggunakan teknik konvensional. 
  10. Buah yang dihasilkan bisa berseragam dalam ukuran. Bukan hanya ukuran, rasa yang dihasilkan juga tetap sama
  11. Warna dari buah yang dihasilkan akan lebih menarik

Penutup

Itulah 3 teknologi reproduksi pada tumbuhan yang bisa menjadi pilihan anda untuk berkebun. Tentunya masing-masing dari teknologi tersebut memiliki kelemahan dan juga kelebihan masing-masing. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bisa dipahami dengan baik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like