13 Puisi Tentang Hujan, Cinta, dan Rindu Penuh Makna

AdaHobi, Puisi tentang Hujan – Menikmati hujan bisa dinikmati dengan berbagai cara, salah satunya dengan membuat puisi berkaitan dengan hujan itu sendiri.

Ada banyak tema puisi tentang hujan yang bisa kita buat sambil menunggu hujan reda. Sebagai contoh, puisi tentang hujan dan kopi jika kamu adalah penikmat kopi. Puisi hujan romantis, jika kamu kebetulan sedang kasmaran dengan seseorang.

Puisi hujan tersebut bisa kamu olah dengan menggunakan 1 bait, 2 bait, 3 bait, 4, bait bahkan 5 lima bait. Tentu saja membuat puisi tentang hujan bebas layaknya membuat puisi tentang lingkungan dan lain sebagainya.

Berikut beberapa contoh puisi tentang hujan yang bisa kamu baca di kala senggang, menunggu hujan reda, atau sebagai referensi untuk membuat puisi tentang hujan lainnya. Selamat menikmati!

Puisi tentang Hujan untuk Anak SD di Sekolah

Puisi tentang Hujan
citraindonesia.com

HUJAN PAGI INI

 

Aku baru bangun tidur

Membuka mata, lalu mengucap doa

Aku punya semangat baru hari ini, untuk lembali sekolah dan belajar lagi

Tapi… tik-tik-tik-tik… telingaku mendengar bunyi air

Jatuh dari atap rumah, terus turun hingga mencapai tanahte

Ooohhh… ternyata hujan telah datang

Mengusir kemarau panjang

Sebenarnya aku senang dengan kedatangannya,

karena akan ada banyak bunga bermekaran

Tapi, bagaimana aku bisa sekolah?

Karena hujan, bisa-bisa seragamku jadi basah

Oh ya… aku jadi teringat, bukankah aku punya sebuah payung

pemberian Ayah bulan lalu

Aku jadi kembali girang

Hujan pagi ini tak jadi penghalang

Sumber: berajasenja.wordpress.com

Puisi pertama kita awali dengan puisi hujan yang polos untuk anak sekolah dasar. Tak banyak kerumitan dalam pembuatannya, tak banyak memerlukan perasaan saat membacanya. Kepolosan dalam puisi di atas tentu akan membawa kita pada nostalgia saat membuat puisi saat sekolah.

Ada banyak hal yang dibahas oleh pengarang puisi tersebut yang mana menceritakan tentang kesulitannya untuk pergi ke sekolah saat hujan turun. Sesaat ketika dia bangun tidur dia senang karena hujan pertanda datangnya akhir musim kemarau.

Namun, hujan ternyata menjadi penghalang untuk dia bersekolah. Untung saja dia ingat pada payung pemberian orangtuanya sehingga dia beranggapan bahwa hujan bukanlah halangan untuk sekolah jika ada payung tersebut.

Baca juga: 15 Contoh Puisi Pendidikan Bebas dan Karya Tokoh Terkenal

Puisi tentang Hujan dan Rindu

Puisi tentang Hujan
pexels.com

Senandung Galau Tanah Kemarau

 

Entah apa yang terjadi pada langit.

Hingga telah berbulan-bulan menahan jatuh rintikmu padaku.

Aku menjadi tiada dalam ketiadaan yang hampa.

Satu-satunya alasan menemuimu yang menjelma menjadi embun subuh tanpa menoleh sedikit saja pada senja.

Sampai kapan pun aku tidak akan pernah lelah.

Lelah menunggu sembab langit dengan ribuan pelukan yang tak sempat aku kecup satu per satu.

Teruntuk kita yang menjadi bahagia di antara basahnya hujan. 

Sumber: devonapixie.wordpress.com

Puisi tentang hujan berikutnya ialah tentang tanah bumi yang bertanya mengapa langit tidak menurunkan hujan kepadanya.

Majas personifikasi yang digunakan dalam puisi ini menggambarkan kebingungan tanah kepada langit.

Bumi dan langit sangat sering dijadikan tema puisi karena keduanya menjadi tempat tinggal para makhluk ciptaan Tuhan. Keduanya pun sangat sering digambarkan hidup, bisa berbicara, dan bahkan juga memiliki jiwa.

Seperti puisi tentang hujan dan tanah kemarau di atas. Bumi digambarkan galau sebab telah lama ia merasa hampa sebab tak ada tanaman yang tumbuh di atasnya. Ia hanya sempat menikmati pertemuan dengan langit hanya berupa air embun pagi hari.

Dikatakan bahwa bumi tak akan lelah menunggu air mata langit yang nantinya akan turun membasahi tanahnya walaupun ia (bumi) tak bisa menghibur langit tiap kali ia (langit) menangis.

Puisi tentang Hujan Singkat

Puisi tentang Hujan
pexels.com

Hujan di Bulan Juni

(Karya: Prof. Sapardi Djoko Damono)

 

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon yang berbunga itu

 

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan Juni

Dihapuskannya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

 

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar

Pohon bunga itu

Siapa yang tak mengenal beliau? Para pujangga, para penikmat kata-kata, dan para penjalin kalimat cinta tentu sangat mengenal beliau.

Puisi beliau tentang hujan di atas tentu juga sangat dikenal. Maknanya yang dalam mestilah ditulis dalam suatu konteks tempat dan waktu tertentu sehingga sangat sukar untuk bisa ditafsirkan,

Puisi tentang Hujan dan Senja

Puisi tentang Hujan
pexels.com

HUJAN DAN SENJA
Oleh: Ismi Sofia Ananda

 

Senja, terbalut mendung
Satu-satu rintik hujan pun turun
Mengetuk atap-atap genting
Menyirami rumput-rumput yang kering

Seakan saya melihatmu
Di balik jendela masa lalu
Berlari-lari kecil di atas kecipak air hujan
Menggenggam tanganku, erat memaku

Kemudian kamu tutupkan jaket
Di atas rambutku yang basah
Kau tersenyum, kamu berbisik
“Aku mencintaimu, Sayang”

Kini saat-saat itu telah pergi
Rindu-rindu menjadi puisi
Sebagian hanyut dideru elegi
Hanyalah hujan, setia berbagi

Di sana di bawah rinai air hujan
Berpayung kita, penuh mesra
Dan peluk tubuhmu,
Mampu hangatkan, nadi-nadiku yang beku

Bagaimana jika hujan dan senja menyatu? Maka, puisi di atas menjadi jawabannya. Penulis sepertinya teringat dengan seseorang saat melihat senja dan hujan. Di antara rintikan hujan ia terbayang seseorang yang menaunginya dengan jaket di saat hari mulai senja.

HUJAN BERSELIMUT SENJA
Oleh: Dam Hanihi Loh’s

 

Hujan benar-benar deras menemani perjalananku kali ini
Untung saja sebelum saya melangkah, kamu membekali payung
Jubah yang saya kenakan tak hingga basah
Aku tak tau bila kamu tak memberiku payung
Netraku niscaya akan tergenang mengalir mengikuti ritme air

Belum lagi angin berhembus membawa aksaraku yang ingin kubingkai dalam sajak rindu
Enyah dari pena yatim piatuku
Rupanya angin tak rela membiarkan sajak-sajakku terlahir
Sehingga tintaku kerontang beku diujung pena

Entahlah, hujan dan angin selalu mengekor disetiap langkahku
Lenyapkan asa-asa semoga tak terlukis sempurna
Indah yang mewarnai jejakku
Memudar ternodai oleh pekat awan mendunguh
Untuk apa hujan gigilkan tubuhku dan angin gugurkan daun-daun
Tetapalah tegak berpijak, ungkapmu menyemangati

Seperti yang pernah kukatakan padamu, langkahku tetap tegak
Entah menurutmu,
Namun biarkan saja hari ini hujan deras menguyur langkahku
Juga angin yang membawa luka
Aku biarkan saja, lantaran hari tak selalu cerah dan senja yang akan mengakhiri.

Puisi tentang hujan dan senja di atas juga sangat bagus. Diawali dengan penulis yang kehujanan saat sedang menikmati perjalanan.

Untungnya temannya sempat memberikan sebuah payung kepadanya hingga pakaiannya tak kehujanan.

Dari puisi di atas kita bisa belajar bahwa ada banyak hal yang bisa dijadikan bahan untuk membuat puisi.

Keadaan alam, pakaian yang kita kenakan, indra yang kita miliki, bahkan waktu bisa menjadi bait-bait puisi indah andai kita lebih peka.

Puisi Hujan Romantis

Puisi Hujan
pexels.com

Hujan Ingin Mengingatkanku Padamu

 

Tahukah kamu
Bahwa jauh di lubuk hatiku
Ada sebuah kenangan yang kusimpan,
Rapi – serapi-rapinya.

Dan hanya kubuka
Saat hujan bergerenyai
Seperti di pagi yang mulia ini.

Saat kusentuh,
Kenangan itu membuncah
Membawa bayang-bayang indah
Tentang kamu, kamu dan senyumannya
Yang tak pernah bisa kulupakan.

Lalu tiba-tiba
Kenangan itu mengajakku
Masuk kembali, ke masa lalu.

Sumber: pantuncinta2000.blogspot.com

Pernah merindukan seseorang saat hujan? Jika pernah, apakah saat membaca puisi huhan dan rindu di atas terbayang wajahnya? Selamat! Kamu juga terbawa keindahan bait-bait puisi di atas.

Memang benar alam dan waktu tertentu seolah membawa memori kita akan sesuatu. Seperti hujan yang ternyata saat kita mengalaminya bersama seseorang dan ketika momen “kehujanan” itu terulang, kenangan tertentu juga ikut terulang.

Puisi menjadi salah satu cara untuk berekspresi, mengutarakan kenangan pada waktu agar kita bisa bernostalgia pada hal yang mungkin kita rindukan atau kita berusaha untuk lupakan.

Puisi Hujan Melayu

Puisi Hujan
pixabay.com

Hujan Ini Begitu Hening

 

Dan bila hujan tiba
Seperti di pagi ini,
Maka aku merasa
Sebuah keheningan di dalam sana.

Hening, hening sekali
Sehingga aku bisa merasa
Seulas bahagia, meski kecil

Meski mungil…

Tapi bahagia itu ada.

Maka
Ketika hujan tiba
Aku, aku selalu bahagia

Sumber: pantuncinta2000.blogspot.com

Ekspresi kebahagiaan bisa diungkapkan dengan puisi sederhana. Puisi bertemakan hujan seperti di atas misalnya, penulis merasakan bahwa saat hujan turun ia merasakan keheningan di dalam hujan. Kebahagiaan yang terpancar dari keheningan hujan meski sedikit namun selalu ada.

Puisi Hujan di Pagi Hari

Puisi Hujan
pixabay.com

Puisi Aroma Hujan

 

Embun pagi di kaca membuatku termenung
Datangnya awan hitam di pagi hari membuatku melamun
Gerangan apa yang membuatku bingung
Ingatan mantan yang membuatku tersenyum

Lama sekian lama menanti
Hujan tak kunjung reda di pagi ini
Hanya Aroma tanah hujan di pagi hari
Membuatku teringat engkau yang pernah mengisi hati

Di mana engaku saat ini?
Hanya tetesan air hujan menemaniku saat ini
Hujan di pagi hari
Membawa sejuta kenangan di hati

Sumber: penulislokal.blogspot.com

Satu lagi puisi tentang hujan yang membawa ingatan akan mantan. Puisi di atas dengan sangat tersurat mengisahkan sang penulis bahwa hujan mengembalikan memori tentang yang terkasih.

Meski kenangan itu hanya tinggal kenangan, hujan tentu akan terus membawa ingatan itu kembali setiap waktu. Ternyata suasana alam juga mampu membuat manusia menjadi sangat sentimentil.

Puisi Hujan Islami

Puisi tentang Hujan
konfirmasitimes.com

Hujan Telah Tiba

 

serentak hari mendung
dari pagi hingga sore
pancar matahari tak nampak
mengeluarkan senyum atau marahnya

dulu mereka kiat
inginkan hujan
kini telah datang
mereka pun bingung

dikeluarkan hujan
ingin cerah
dikeluarkan cerah
ingin hujan
apakah pantas seorang manusia
tak ingin bersyukur
atas pemberian
sang Maha Pencipta

kini hujan pun turun
membasahai perkarangan rumah
bumi tandus menjadi basah
sawah tertanam padi
ladang bertumbuh rumput
ampuni mereka yang tak bersyukur
terimakasih
telah membasahi kami

 

By: Dalang Wanataka

Hujan salah satu anugerah dari Tuhan, kita selalu bersyukur akan nikmat yang Dia berikan. Cara bersyukur bisa diungkapkan dengan berbagai cara, seperti misalnya membuat puisi hujan yang singkat dan sederhana.

Alam dan segala makhluk di dalamnya memberikan inspirasi kepada manusia. Keindahan dan kecantikan dari berbagai fenomena alam menjadi bahan bakar kreatifitas para pujangga kata untuk berekspresi.

Bumi, sawah, ladang seperti yang tertulis di puisi hujan di atas adalah hanya sedikit contoh bagian dari alam raya semesta yang patut kita syukuri keberadaannya.

Puisi Hujan dan Cinta

pixabay.com

(tanpa judul)

 

hujan itu serupa dengan cinta,

ketika turun hujan, itu artinya cinta sedang turun dari langit,

dicintai itu seperti berada di tengah siraman air hujan,

kamu bisa menghindari tetesan-tetesannya,

akan tetapi kamu tidak bisa menghentikannya,

kamu bisa menghindari cinta,

namun kamu tidak bisa menghentikan cinta,…

Pintara al-Fata

Saat pertama membaca puisi tentang hujan di atas, apa yang terbayang? Puisi tak berjudul ini memiliki kata-kata sederhana yang sangat mudah dipahami, sangat sederhana namun memiliki kedalaman makna.

Tentu semua orang bebas menafsirkan suatu puisi. Tak ada yang objektif dalam pemaknaan suatu kata.

Menyerupakan hujan layaknya cinta tentu sangat mungkin. Seperti puisi tentang hujan sebelumnya, hujan membawa kenangan indah dan memberikan semangat hidup bagi sebagian orang. Jika hujan adalah cinta maka bisa jadi cerah adalah kasih sayang.

Puisi Hujan dan Kopi

Puisi Hujan
hipwee.com

Kopi dan Hujan

Oleh: elisakrisanti268

 

Sama-sama berupa air yang menenangkan..

Kopi bagiku sebuah pelarian dari segala kegundahan..

Hujan itu seperti teman yang berusaha menghibur bahwa aku bersedih tidak seorang diri..

Taukah kau?

Aku menyukai rintikan hujan yang menari-nari ketika jatuh ke bumi..

Juga menyukai kopi yang pahit dan manisnya tidak bisa dirasakan sekaligus..

Mungkin air kopi tak sebening hujan, dan hujan datang tak sehangat kopi,

Tapi kopi mampu menghangatkan siapa saja yang menikmati hujan…

Terkesan dengan bait terakhir puisi di atas? Sang penulis mengatakan bahwa ia menyukai kopi walaupun pahit dan manisnya kopi tak mampu dikecap secara bersamaan.

Baginya kopi dan hujan adalah sama, yang satu menjadi tempat pelarian, yang lain menjadi kawan saat sendirian.

Apa yang kamu lakukan saat butuh tempat pelarian dan sedang sendirian saat itu? Apakah kamu juga akan mengecap kopi di saat hujan turun? Atau ada hal lain?

Puisi tentang Hujan dan Harapan

pixabay.com

Hujan Sore

 

Nada mesra air memecah selimut bumi
Hilir berceloteh menelanjangi sepi
Sekali angin duduk di pangukuan jendela
Semilir rindu menerjang asa

Nada mesra air mengusik celah syurgawi
Berlari, bernyanyi, dan saling mendahului
Hanya mencari tanjung harapan sembunyi
Membungkam senja tak sadarkan diri

Rindu menuai cengkram paling kuat
Bak hempasan melukai batu konglomerat
Pelangi yang tak diharapkan jaraknya
Pelangi yang tak diharapkan leburnya

Kilatan khayal mengusik kornea
Alunan doa terpancar ke nirwana
Cahaya pelita perlahan sirna
Menyatukan bayangan, berakhir di telaga.

 

14 Mei 2014
— Citra Khadifa

Puisi hujan berikut ini sangatlah cantik. Keserasian rima dalam tiap bait-baitnya seakan membawa kita masuk ke alam penulisnya.

Ada penggambaran tentang harapan dan rindu di dalamnya. Keduanya tercipta dari keberadaan kata seperti pelangi, doa, dan cahaya.

Elemen alam tertentu sering digambarkan mewakili suatu keadaan, baik secara tersurat maupun tersirat.

Doa misalnya, adalah elemen yang mewakilkan harapan. Bayangan, bisa mewakilkan masa lalu dan kegelapan.

Puisi tentang Hujan dan Tuhan

Puisi tentang Hujan
irvanderiza.files.wordpress.com

Datanglah Rahmat-Mu

 

Angin kegembiraan memberi kabar kedatanganmu
Penduduk pribumi begitu gembera menyambutmu
Limpahan syukur terus mereka kumandangkan
Kecerahan dunia seketika berganti muram petang
Tapi…..muram petang dunia bukanlah pembawa bencana
Melainkan tetesan kasih sayang Sang Kholiq
Bumi yang bergejolak akibat dosa para insan
Berubah menjadi berkah
Rumput yang setengah mati
Berubah menjadi berarti
Memberi manfaat bagi insan duniawi

 

By : Ahmad Mawardi

Hujan dianggap sebagai rahmat Tuhan yang turun ke bumi. Puisi tentang hujan dan Tuhan di atas menggambarkan dengan sangat jelas asumsi tersebut.

Alam yang dulunya gersang dan pepohonan yang hampir mati karena kekeringan serta merta hidup dan hijau kembali saat turun hujan. Hal tersebut kemudian juga memberikan manfaat kepada manusia itu sendiri.


Demikian beberapa contoh puisi tentang hujan yang bisa kamu jadikan referensi sederhana. Kamu juga bisa menulis puisi tentang hujan dan puisi tentang alam sekitar, lho.

Menulis puisi bisa jadi obat hati di saat gundah. Menyimpan hasil karya sendiri untuk kemudian dibaca di lain waktu bisa jadi kenikmatan tersendiri. Selamat berpuisi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like