Tembang Megatruh: Pengertian, Filosofi, Ciri, Watak, Paugeran, Contoh

Adahobi, Tembang Megatruh – Salah satu bentuk budaya Jawa yang cukup populer adalah berupa tembang. Tembang Jawa beberapa di antaranya berupa tembang Jawa Macapat. Salah satu tembang Macapat berupa tembang Megatruh.

Nah, kali ini kita akan membahas bersama mengenai tembang Megatruh, mulai dari apa itu tembang Megatruh, apa filosofi yang terkandung di dalamnya, apa ciri-cirinya, apa kegunaannya, apa wataknya, paugeran tembang tersebut, dan apa contoh-contohnya.

Bagi kamu yang penasaran, segera scroll ke bawah dan simak penjelasan lengkapnya pada artikel di bawah ini.

Pengertian Tembang Megatruh

tembang macapat megatruh
tembang macapat megatruh : failfaire.org

Tembang sendiri tergolong ke dalam salah satu jenis budaya khas Jawa yang harus dilestarikan keberadaannya. Ada banyak jenis Tembang Jawa yang menjadi budaya Jawa, salah satu tembang yang paling populer adalah tembang Macapat.

Di dalam tembang Macapat, terdapat beberapa jenis tembang yang salah satu contoh tembang Macapat dikenal dengan tembang Megatruh. Tembang jenis ini dinamakan Megatruh yang asal namanya dari dua suku kata Jawa, yakni Pegat dan Ruh. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah melepas ruh. Dengan kata lain Megatruh adalah seseorang yang sudah meninggal.

Sehingga makna dari tembang Megatruh ini adalah gambaran roh seseorang yang sudah meninggal atau sudah dicabut. Dalam serat Purwaukara, tembang Megatruh diawali dengan awalan -am, pegat, dan ruh sehingga munculnya semua hal yang sifatnya buruk dan negatif.

Kumpulan Contoh Tembang Megatruh dan Artinya

Contoh Tembang Megatruh
Contoh Tembang Megatruh

Tembang Megatruh dapat dibuat dengan beragam tema yang disesuaikan dengan kebutuhan dan realita manusia. Kali ini kita akan membahas bersama mengenai beberapa contoh tambang Macapat Megatruh dengan tema nasihat dan agama. Untuk lebih jelasnya dapat diamati di bawah ini.

A. Contoh Tembang Megatruh Tema Nasihat

Tembang Macapat Megatruh dapat dibuat dengan berbagai tema, salah satunya adalah mengusung tema nasihat bagi setiap insan manusia. Adapun contoh-contoh tembang Megatruh dengan tema nasihat dapat diamati sebagai berikut.

Contoh 1: Berbuat Kebajikan

Hawya pegat ngudiya ronging budyayu,
Margane suka basuki,
Dimen luwar kang kinayun,
Kalising panggawe sisip,
Ingkang taberi prihatos.
(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)

Artinya:

Jangan pernah lelah untuk berbuat kebaikan,

Jalan untuk mencapai keselamatan,

Agar tercapai seluruh kemauan,

Bebas dari perbuatan yang tidak-tidak,

Yang tekun prihatin.

Contoh 2: Pemahaman

Ulatna kang nganti bisane kepangguh,
Galedhahen kang sayekti,
Talitinen awya kleru,
Larasen sajroning ati,
Tumanggap dimen tumanggon.
(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)

Artinya:

Simaklah sampai dapat bertemu,

Pandanglah dengan serius,

Telitilah jangan sampai keliru,

Endapkan di dalam hati,

Supaya mudah dalam menjawab sesuatu.

Contoh 3: Isi Hati

Pamanggone aneng pangesthi rahayu,
Angayomi ing tyas wening,
Eninging ati kang suwung,
Nanging sejatineng isi,
Isine cipta sayektos.
(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)

Artinya:

Tempatnya terletak di hati yang bahagia,

Melindungi hati yang sepi,

Heningnya hati yang kosong,

Meski sejatinya berisi,

Isinya cipta yang baik.

Contoh 4: Sabar

Lakonana klawan sabaraning kalbu,
Lamun obah niniwasi,
Kasusupan setan gundhul,
Ambebidung nggawa kendhi,
Isine rupiah kethon.
(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)

Artinya:

Jalani dengan hati yang sabar,

Jika bergerak dari kebajikan akan hadapi kehancuran,

Kesurupan setan gundul,

Menggoda dengan bawa kendi,

Berisikan uang yang sangat banyak.

Contoh 5: Pengaruh Buruk

Lamun nganti korup mring panggawe dudu,
Dadi panggonaning iblis,
Mlebu mring alam pakewuh,
Ewuh mring pananing ati,
Temah wuru kabesturon.
(Rangga Warsita, Serat Sabda Jati)

Artinya:

Jika ikut-ikut perbuatan yang tidak baik,

Jadilah tempat iblis,

Masuk di alam yang tidak menyenangkan,

Malu pada jernihnya hati sendiri,

Akhirnya jadi mabuk kepayang.

Contoh 6: Menawarkan Bantuan

Nuli clathu amit sadaya priyantun,
Kula parenga nyelaki,
Badhe tumut urun rembug,
Sukur saged anjampeni,
Wong-wong sing weruh malenggong.
(Kepaten Obor)

Artinya:

Kepada semua orang, saya ingin meminta maaf,

Perkenankan saya untuk lebih dekat,

Ingin sekali ikut berbicara,

Sukur dapat membantu,

Orang-orang yang melihat terpukau.

B. Contoh Tembang Megatruh Tema Religi

Selain tema nasihat, tembang Megatruh juga dapat dibuat dengan tema Religi sebagaimana ditunjukkan beberapa contohnya di bawah ini.

Contoh 1: Dzikir dan Sholat Malam

Aja sipat tan pegat siyang myang dalu,
Amuwun ing ngarsa mami,
Nora pajar kang kinayun,
Lah mara sira den aglis,
Tutura mringjeneng ingong.

(Serat Pragiwa, J. Kats, 1928: 108)

Artinya:

Jangan terburu-buru dalam memisahkan siang dan malam,

Menangislah di hadapanku,

Tidak mudah yang diharapkan,

Segeralah tiba dengan lekas,

Berkatalah dengan menyebut namaku,

Contoh 2: Berkumpul Mengingat Tuhan

Kawulane kabeh nyedhak padha ngrubung,
Ngupakara marang Gusti,
Kocap ana uwong maju,
Amiyak para prajurit,
Bareng ketok uwong wedok.

Artinya:

Semua umat Tuhan berbondong-bondong mendekat,

Mengingat nama Tuhannya,

Setelah ada orang yang maju,

Di antara para prajurit,

Setelah terlihat seorang perempuan.

Contoh 3: Kebaikan Lahir dan Batin

Kabeh iku mung manungsa kang pinujul,
Marga duwe lahir batin,
Jroning urip iku mau,
Isi ati klawan budi,
Iku pirantine ewong.

Artinya:

Semua itu hanya manusia yang lebih utama,

Karena memiliki lahir dan bathin,

Di dalam kehidupan,

Isi hati serta budi pekerti,

Semua itu menjadi bekal kebaikan yang dimiliki manusia.

Contoh 4: Bekal Mati

Nalikane mripat iki wis ketutup,
Nana sing bisa nulungi,
Kajaba laku kang luhur,
Kang ditampi marang Gusti,
Aja ngibadah kang awon.

Artinya:

Di saat mata ini telah tertutup,

Tidak ada yang bisa menolong,

Selain amal kebajikan,

Yang diterima oleh Tuhan,

Janganlah berbuat buruk.

Contoh 5: Doa

Dhuh dhuh Dewa Bathara ingkang linuhung,
Mugi paringa aksami,
Mring dasih kang welas ayun,
Kasangsaya gung prihatin,
Sru nalangsa jroning batos.

Artinya:

Ya Tuhan yang Maha Tinggi,

Berikanlah pertolongan,

Kepada siapa saja yang membutuhkan,

Terlebih lagi kepada mereka yang kekurangan,

Terlampau sedih di dalam hati melihatnya.

Baca juga artikel terkait: 

  1. Tembang Pucung
  2. Tembang Gambuh
  3. Tembang Sinom
  4. Tembang Pangkur

Filosofi Tembang Megatruh

Filosofi Tembang Megatruh
padukata.com

Setiap tembang Jawa pastilah mengandung filosofi yang kental di dalamnya, tidak terkecuali dengan tembang Megatruh ini. Filosofi dari tembang Megatruh yakni tentang perjalanan hidup manusia yang sudah selesai di dunia sesuai dengan masa yang telah menjadi takdir Illahi. Setiap manusia yang mengalami kematian biasanya akan berduka dan bersedih.

Jenis tembang Macapat ini adalah bentuk mengingatkan kita pada salah satu firman Allah SWT dalam ajaran agama Islam yang artinya:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati”

“Setiap manusia pasti akan binasa”

Dengan demikian, pesan yang disampaikan melalui tembang Megatruh ini berupa nasihat mengenai kematian. Berupa pesan supaya kita selalu berbuat baik saat masih hidup di dunia, agar kelak tidak menyesal saat kematian telah menghampiri seseorang tersebut.

Ciri-ciri Tembang Megatruh

Ciri-ciri Tembang Megatruh
padukata.com

Tembang Megatruh ini juga memiliki ciri-ciri yang menjadikannya khas dan unik. Beberapa ciri-ciri Tembang Megatruh di antaranya adalah:

  1. Tembang Megatruh menggunakan standar lagu berupa guru wilangan, guru nyanyian, dan guru gatra.
  2. Tembang Megatruh dapat berdiri sendiri tanpa adanya instrumen pengiring seperti gendang.
  3. Tembang Megatruh menggunakan gaya bahasa Jawa baru atau modern.

Kegunaan Tembang Megatruh

Kegunaan Tembang Megatruh
padukata.com

Selain ciri-ciri yang sudah disebutkan sebelumnya, tembang Megatruh juga memiliki beberapa kegunaannya yang meliputi:

  1. Digunakan untuk mengubah menulis sastra Jawa.
  2. Digunakan untuk menggali atau membawa atap.
  3. Digunakan untuk lagu Ketoprak atau Ringgit.

Watak Tembang Megatruh

Watak Tembang Megatruh
failfaire.org

Sama seperti beberapa jenis tembang Jawa lainnya, tembang Megatruh juga memiliki watak. Watak tembang Megatruh sendiri umumnya berhubungan dengan kondisi emosional, yakni memberikan pengaruh emosi kepada siapa saja yang mendengarkan tembang Jawa ini dibacakan.

Karena menceritakan tentang seseorang yang ruhnya telah dicabut dari jasadnya atau ia yang sudah meninggal, maka tembang Megatruh ini identik dengan watak kesedihan. Meski begitu, terdapat beberapa watak lainnya yang terkandung di dalam tembang Megatruh yang di antaranya adalah watak keputusasaan, keterpurukan, kedukaan, kesedihan, keprihatinan, rasa penyesalan, dan hilangnya harapan.

Paugeran Tembang Megatruh

Paugeran Tembang Megatruh
Paugeran Tembang Megatruh : senibudayaku.com

Paugeran sendiri dapat diartikan sebagai tata aturan atau struktur yang digunakan untuk semua jenis tembang. Setiap tembang memiliki aturan yang berbeda-beda dari satu tembang dengan tembang yang lainnya.

Adapun paugeran dari tembang Megatruh dapat dibedakan menjadi tiga, yakni:

1. Guru Gatra

Aturan yang pertama adalah aturan guru gatra. Guru gatra ini dapat diartikan sebagai jumlah baris di setiap bait tembang. Nah, guru gatra pada tembang Megatruh terdiri dari 5 baris dalam satu bait.

2. Guru Wilangan

Paugeran kedua disebut dengan guru wilangan. Guru wilangan adalah jumlah suku kata pada setiap baris tembang. Untuk tembang Megatruh, terdiri dari guru wilangan 12, 8, 8, 8. Dengan kata lain guru wilangan tembang Megatruh bahwa:

  1. Guru wilangan baris pertama berjumlah 12 suku kata.
  2. Guru wilangan baris kedua berjumlah 8 suku kata.
  3. Guru wilangan baris ketiga berjumlah 8 suku kata.
  4. Guru wilangan baris keempat berjumlah 8 suku kata.
  5. Guru wilangan baris kelima berjumlah 8 suku kata.

3. Guru Lagu

Guru lagu dapat diartikan sebagai akhir vokal pada setiap baris tembang. Untuk tembang Megatruh sendiri memiliki guru lagu u, i, u, i, o. Dengan kata lain bahwa:

  1. Baris pertama tembang Megatruh diakhiri dengan huruf vokal “u”.
  2. Baris kedua tembang Megatruh diakhiri dengan huruf vokal “i”.
  3. Baris ketiga tembang Megatruh diakhiri dengan huruf vokal “u”.
  4. Baris keempat tembang Megatruh diakhiri dengan huruf vokal “i”.
  5. Baris kelima tembang Megatruh diakhiri dengan huruf vokal “o”.

Penutup

Demikian penjelasan mengenai tembang Megatruh lengkap dengan contoh-contohnya. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua terkait budaya bangsa kita berupa tembang-tembang Jawa yang kaya akan makna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like